4 Keris Pusaka : Sebuah keris yang dibuat oleh seorang Empu keris yang memiliki ciri - ciri indah dan memiliki tayuhan. Tentu saja pada saat pembuatan melakukan upacara-upacara khusus agar keris tersebut bertuah. Dalam setahun seorang Empu keris dapat membuat 1 atau 2 buah saja.
Sebuahkeris yang dibuat oleh seorang Empu keris yang memiliki ciri - ciri indah dan memiliki tayuhan. Tentu saja pada saat pembuatan melakukan upacara-upacara khusus agar keris tersebut bertuah. Dalam setahun seorang Empu keris dapat membuat 1 atau 2 buah saja.
CiriCiri Keris Semar Kuncung Penakluk Lawan Jenis Jimat Ageman Semar Kuning salah satu benda bertuah yang tergolong pusaka gaib langka. Energi yang terkandung dalam Keris ini adalah murni bersumber berasal dari karunia Tuhan yang Maha Esa, yang sesudah itu diolah oleh Dewi Gayatri kekuatan yang beliau miliki.
Berikutini beberapa ciri khas Keris tangguh Sedayu: 1. Gonjonya datar atau gonjo wuwung dengan gulu meled-nya berukuran sedang tapi penampilannya memberi kesan kekar dan kokoh. 2. Buntut cecak-nya ambuntut urang atau mekrok. 3 Jika membuat Keris luk, maka luknya termasuk luk yang rengkol atau sarpo lumampah. 4.
Ciriyang pertama yang sering muncul adalah peristiwa ketindihan atau secara deskriptif adalah kaeadaan klien yang merasa ditindih sesuatu saat tidur. Biasanya klien merasa sadar, hanya saja tidak bisa bergerak oleh sebab ada sesuatu yang membatasi dirinya bergerak. Meliputi susuk, keris bertuah, jimat, rajah atau amalan dzikir
Wujudkeris Gembologeni yang asli memiliki ciri-ciri sebagai berikut, 1. Pada bagian tengahnya ada sosoran yang berwujud gambar seperti binatang kala. Demikianlah ciri dan keampuhan keris Gembologeni ini yang sangatlah hebat, bertuah tinggi sangat cocok untuk dunia militer maupun dipakai oleh orang-orang sipil. Tag : Ajimat, Misteri
. Surabaya - Membedakan keris asli dan keris replika atau palsu, ternyata ada ilmunya. Tak semua orang bisa membedakan mana keris asli dan mana keris satu kolektor keris, Nurjianto mengungkap ilmu membedakan keris asli dan replika. Seorang kolektor senjata pusaka dari Yogyakarta ini sempat memamerkan dua koleksi keris miliknya yang bernilai miliaran rupiah di Blitar, Jawa Timur."Semua ada dasar keilmuannya. Saya juga sebagai pembina empu pembuat keris saat ini," tutur Nurjianto. Lalu, bagaimana ilmu membedakan keris asli dan replika?Nurjianto mengungkapkan, memang ada metode yang digunakan seorang kolektor atau pecinta senjata pusaka untuk membedakan keris lama dan baru."Pertama, dari ciri-ciri bentuknya. Dari ciri materialnya dan dari teknik tempanya," menambahkan, itulah sebabnya keris juga sering disebut sebagai 'tosan aji' yang berarti besi yang materialnya, Nurjianto menegaskan jika keris yang asli merupakan perpaduan tempaan inti bijih besi yaitu baja dan batu meteor yang mengandung nikel serta titanium."Tapi bukan meteor yang kita ambil dari langit ya, melainkan meteor yang telah jatuh ke bumi," memberikan jaminan keaslian sebuah keris, paguyuban pelestari keris bisa mengeluarkan sertifikat khusus untuk mereka yang memahami 'ilmu' melihat keris.'Keilmuan' Nurjianto dalam menilik keaslian keris, tentu tak bisa diragukan lagi. Sebab, dua dari keris koleksinya bernilai miliaran rupiah. Di mana ia memiliki satu keris Kiai Sabuk Inten diyakini sebagai pusaka asli Majapahit."Secara historis, pemegang keris ini adalah keturunan raja-raja Majapahit," jelasnya. Simak Video "Kolektor Keris, Senjata Khas Peninggalan yang Bersejarah, Surabaya" [GambasVideo 20detik] hil/sun
Keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro. Fernando Randy/Historia. Kembalinya keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro ke Indonesia dari Belanda memunculkan perdebatan. Banyak yang mempertanyakan kesahihan keris itu lantaran keris itu ber-dhapur Nagasasra bukan Nogo Siluman. Namun, perdebatan soal itu tampaknya tak perlu diperpanjang lagi. Pasalnya, menurut Boedhi Adhitya, pemerhati keris dari Paheman Memetri Wesi Aji Pametri Wiji, organisasi pecinta budaya keris yang didirikan di Yogyakarta, persoalan nama keris dan nama dhapur keris seharusnya dipisahkan. Nama dhapur adalah nama bentuk keris. Nama ini diberikan sesuai dengan ciri-ciri bentuk yang ada pada sebilah keris. Utamanya ditentukan dari lurus atau jumlah lekukan pada bilah keris luk. Pun dari ragam ricikan yang dimiliki. “Ricikan adalah detail hiasan bilah. Jumlah detail ricikan ini ada sekira 25 lebih, namun tidak semuanya ada dalam sebilah keris. Ada yang hanya punya dua ricikan, lima, dan seterusnya,” kata Boedhi kepada Historia. Sementara nama keris atau nama gelarnya adalah nama spesifik yang diberikan pemilik kepada sebilah keris. Nama, menurut Boedhi, bisa berganti-ganti sesuai kehendak pemilik. “Misal penggemar ayam aduan punya seekor ayam jago bangkok, lalu dia beri nama Si Pelor, karena pukulannya yang cepat. Maka dalam istilah perkerisan, dapat kita ibaratkan ayam tersebut adalah Kiai Pelor, dhapur-nya Jago Bangkok. Nama Si Pelor dapat diganti, sedangkan ras Ayam Bangkok sudah baku sejak lahir, sulit diubah,” jelas Boedhi. Karenanya, menurut Boedhi, keris Diponegoro dengan nama gelar Kiai Nogo Siluman yang memiliki dhapur Nagasasra itu tak perlu lagi menjadi perdebatan. Bisa saja Pangeran Diponegoro, menurut kehendaknya sendiri memberi nama Nogo Siluman pada kerisnya itu. “Memberi nama tentunya menurut kehendak mereka, tanpa mempertimbangkan pendapat kita,” ujar Boedhi. Dari sisi pakem atau aturannya, memberi nama keris berbeda dengan dhapur-nya, sama sekali bukan hal yang termasuk larangan. Selama ini pakem keris tertulis yang biasa dimuat dalam teks tradisional biasanya meliputi nama dhapur, nama ricikan, nama pamor dan ciri-ciri tangguh. Ada juga yang memuat cerita tentang mpu dan dhapur yang diciptakannya, serta pada masa kerajaan apa mpu itu hidup. Karenanya soal penamaan gelar keris yang berbeda dengan nama dhapur-nya bukan hal aneh dalam dunia perkerisan. Boedhi mencontohkan, ada salah satu pusaka utama Keraton Yogyakarta, yang bergelar Kanjeng Kiai Ageng Bethok. Dalam ilmu perkerisan, dhapur Bethok adalah keris yang bentuknya pendek dan lebar dengan gandik yang polos. Kenyataannya, Kanjeng Kiai Ageng Bethok ini justru tak berdhapur Bethok. “Kiai Bethok tidaklah ber-dhapur Bethok, dalam Babad Tanah Jawa disebutkan memiliki sekar kacang, padahal dhapur Bethok seharusnya tidak punya,” jelas Boedhi. Contoh lainnya, Kiai Crubuk. Ini adalah keris terkenal peninggalan Sunan Kalijaga. Saat ini ia tersimpan di Masjid Demak. Dalam ilmu keris, Crubuk adalah nama dhapur keris luk 7. Namun, Kiai Crubuk ternyata berbentuk lurus. “Hingga saat ini, sejauh yang saya ketahui, belum ada yang mempertanyakan keasliannya,” kata Boedhi. “Jadi Kiai Bethok tidak ber-dhapur Bethok, Kiai Crubuk tidak ber-dhapur Crubuk, Kiai Nogo Siluman tidak ber-dhapur Naga Siluman. Kiai Bethok dan Kiai Crubuk adalah pusaka terkenal turun temurun.” Nagasasra atau Nagaraja? Perdebatan di media sosial juga bukan hanya menyoal nama dhapur dan nama gelar keris yang tak sesuai. Persoalan nama dhapur keris ini pun mengundang perbedaan pendapat. Ada yang sepakat keris ini ber-dhapur Nagasasra. Ada pula yang kekeuh keris Kiai Nogo Siluman ini ber-dhapur Nagaraja. Boedhi menjelaskan kalau ada beragam sumber pengetahuan tentang keris. Ada yang berasal dari teks tradisi, seperti babad misalnya. Ada pula yang berupa pengetahuan lisan. Bahkan, ada yang istilahnya hanya lazim disebutkan dalam dunia perdagangan keris. “Istilahnya bahasa dagang, bahasa bakul,” katanya. “Ketiganya perlu dibedakan.” Contohnya, dalam dunia perdagangan keris, ada yang disebut Keris Sombro atau dhapur Sombro. Namun dalam naskah-naskah kuno, nama ini tak ditemukan. Yang tercatat adalah Mpu perempuan bernama Ni Mbok Sombro. “Dengan demikian, apa yang saat ini lazim disebut Keris Sombro sesungguhnya tidak ditunjang oleh teks-teks tradisi yang ada. Bisa jadi istilah ini adalah jargon’ yang belum terlalu lama dibuat,” kata Boedhi. Begitu pula dengan nama dhapur Nagaraja. Boedhi telah menelusuri lewat buku-buku dhapur yang ia miliki. Seperti daftar nama dhapur dalam Serat Centini, naskah Keraton Yogyakarta yang ada di Belanda, nama dhapur yang disusun oleh Pangeran Hadiwijaya, putra Paku Buwono X Surakarta, nama dhapur dalam buku Keris Jawa antara Mistik dan Nalar karya Haryono Haryo Guritno. “Tidak ditemukan nama dhapur Nagaraja. Belum saya ketemukan teks naskah lama yang mencantumkan nama dhapur itu,” ujar Boedhi menyimpulkan. “Dapat dikatakan ini adalah nama dhapur yang tidak pakem menurut tradisi, bila mengacu pada catatan tekstual.” Kendati begitu, memang dalam dunia perdagangan keris dhapur Nagasasra dan Nagaraja itu dibedakan. Perbedaannya pada bentuk tutup kepala yang digunakan oleh naga. Pada Nagasasra, tutup kepala seperti yang digunakan oleh wayang Adipati Karna. Sementara pada Nagaraja, tutup kepala berbentuk mahkota makutha, seperti yang digunakan wayang Kresna. “Karena bermahkota, sedangkan mahkota digunakan raja, maka naga bermahkota disebut naga raja, dalam perdagangan,” kata Boedhi. Sementara ciri lainnya relatif sama, yaitu keris ber-luk 13, atau 11, dan ada juga yang 9. Gandiknya berbentuk kepala naga. Lalu terdapat badan naga yang memanjang mengikuti bentuk bilah. “Perbedaan dengan dhapur Nogo Siluman adalah keris ber-dhapur Naga Siluman hanya bergandik kepala naga, tidak memiliki badan,” lanjut Boedhi. Layak Dimiliki Pangeran Diponegoro Lalu apakah mungkin keris indah dan mewah ini dimiliki oleh Pangeran Diponegoro? Kalau menurut Boedhi, keris yang baru saja dikembalikan itu sangat layak dimiliki oleh seseorang bergelar pangeran seperti Pangeran Diponegoro. “Beliau adalah seorang pangeran senior, putra tertua dari Hamengku Buwono III dari istri selir,” ucapnya. Sejauh yang dipahami Boedhi, belum ada Awisan Dalem atau Larangan Dalem yang membatasi seseorang memiliki dhapur keris tertentu. Kendati memang ada angger-angger atau undang-undang Awisan Ratu atau Larangan Dalem mengenai barang atau atribut pakaian yang terlarang dikenakan selain raja. “Namun demikian, ketika mpu membuat keris, pemilihan dhapur dan pamornya tentu tidak serampangan. Banyak hal yang dipertimbangkan, salah satunya kedudukan sosial pemesan,” ujar Boedhi. Kendati mungkin dimiliki oleh Pangeran Diponegoro, keris ini tak dibuat pada masa ia hidup. Menurut Boedhi, berdasarkan bentuknya, keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro itu dapat disebut sebagai tangguh atau gaya Mataram. “Kemungkinan dibuat zaman pemerintahan Sultan Agung,” ujarnya. Menurut tradisi, Boedhi menjelaskan, keris dhapur Nagasasra yang pertama kali dibuat diciptakan oleh Jaka Supa II, putra dari Jaka Supa I atau Pangeran Sedayu pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Adalah hal umum dalam dunia perkerisan, bahwa dhapur yang dulu sudah pernah dibuat, dibuat kembali pada zaman yang berbeda. Dhapur Nagasasra juga begitu. Dhapur Nagasasra cukup populer. Ia lalu banyak dibuat, khususnya pada masa pemerintahan Mataram Islam. “Ciri bentuknya sama, tetapi gaya pembuatan setiap zaman berbeda-beda, sesuai selera pada masa itu. Pada prinsipnya, perbedaan ini terlihat pada gaya bentuk, teknik tempa dan bahan material yang digunakan,” jelas Boedhi. Maka tak heran jika saat ini keris ber-dhapur Nagasasra, yang mirip wujudnya dengan Kiai Nogo Siluman tidak hanya ada satu, yaitu keris yang baru saja kembali dari Belanda itu. Keris berciri serupa salah satunya menjadi koleksi Museum Nasional, Jakarta. “Museum-museum luar negeri juga ada. Kolektor-kolektor keris pun ada yang punya,” kata Boedhi. Mengenai bagaimana keris itu bisa sampai ke tangan Pangeran Diponegoro? Ini sayangnya tak ditemukan catatannya. “Kita hanya bisa berspekulasi,” ujarnya. Sejauh yang Boedhi ketahui, arsip Keraton Yogyakarta tidak mencatat keris-keris yang diberikan raja pada seseorang. Biasanya yang dicatat adalah asal-usul keris yang ada pada saat catatan itu dibuat. Ini disimpan di Gedong Pusaka Keraton. “Keris pusaka Keraton Yogya yang dikaitkan dengan Pangeran Diponegoro yang kerisnya masih tersimpan di Gedong Pusaka Keraton Yogyakarta hingga saat ini adalah Kanjeng Kiahi Wisa Bintulu,” kata Boedhi. Bisa jadi keris Kiai Nogo Siluman ini dimiliki Pangeran Diponegoro karena warisan, baik lewat garis ibu maupun bapak. Kalau bukan karena warisan, mungkin hasil pembelian, hadiah atau pemberian seseorang seperti tombaknya Kiai Cakra yang konon merupakan pemberian. Kalau tidak, keris itu bisa jadi tidak sengaja ia temukan. Namun, kemungkinannya kecil kalau keris itu adalah warisan. Pasalnya sebagai keris warisan tentu dihargai. “Bukan berarti Pangeran Diponegoro tidak menghargai keris ini ya. Tapi artinya bukan merupakan keris andalan,” kata Boedhi. Kerisnya yang paling berharga lebih mungkin adalah Kiai Bondoyudo yang ikut dikubur bersama jasad Diponegoro. Adapun soal perdebatan yang kini ramai di media sosial, menurut Boedhi, ini hal biasa di dunia perkerisan. Namun bagi Boedhi, siapapun yang mendebat harus punya bukti dan alasan yang kuat.
Ilustrasi Keris - Dikalangan pecinta Tosan Aji, Keris tangguh Mageti di anggap memiliki kharisma tersendiri, dari kualitas garap dan seni spiritual tingkst tinggi yang menyelimuti setiap bagiannya menjadikan Keris ini banyak diburu oleh para kolektor dan pecinta Tosan Aji sehingga nilai maharnya semakin melambung. Banyak yang menyebut Keris tangguh Mageti dengan istilah Tuban Mageti. Hal itu karena kualitas garap dan kualitas besinya yang sangat bagus, lumer dan keras dengan pori-pori padat. Langgam Keris Mageti mirip dengan Keris tangguh PB karena memang ada keterkaitan sejarah antara daerah Magetan, Madiun dan Surakarta. Ciri khas Keris tangguh Mageti yang paling menonjol adalah pada bentuk gonjo yang melandai turun ke bawah serta bangkek'an yang terkesan ramping dan singset. Selain itu, tikel alisnya juga tampak mencuat tegas melengkung di atas gandhik seperti bentuk pancing kail ikan.Pasikutan Keris tangguh Mageti terkesan sangat gagah, tegas dan memiliki energi spiritual yang cukup kuat. Maka tidak heran jika banyak orang yang berminat untuk memiliki Keris pusaka tangguh Mageti. Tapi karena banyak yang mencari Keris ini, sehingga banyak beredar Keris Mageti palsu. Keris tangguh Mageti adalah Keris yang dibuat oleh para Empu dari daerah Magetan dan merupakan salah satu Keris andalan pada jaman sebetulnya adalah nama seorang pemimpin yang tidak ada hubungannya dengan sejarah perkerisan. Ki Gede Mageti adalah seorang tokoh yang diduga berasal dari awal abad ke-19 Ki Gede Mageti membabat hutan di Wewengkon - Kadipaten Madiun yang nantinya akan menjadi kota inilah yang pertama kali membuka daerah tersebut dan menjadi penguasa pertama di desa yang kemudian bernama daerah Magetan yang waktu itu masih dibawah kekuasaan Kabupaten Madiun ada seorang Empu Keris handal yang bernama Ki Guno karya Empu Guno Sasmito sangat menonjol dari segi garapnya yang sangat rapi dan menggunakan material besi yang Guno banyak membuat Keris untuk Pangeran Diponogoro dan para panglimanya. Bahkan konon Keris Kanjeng Kyai Balewiso milik Basah Sentot Prawirodirjo yang merupakan Senopati perang pasukan Diponogoro adalah bautan Empu Guno karya Empu Guno Sasmito juga memiliki ciri khas yang lain, yaitu antara bilah Keris dan gonjonya sangat rapat serta ujung pesi yang berbentuk sirah gendelo / kepala perkerisan menyebut ciri ujung pesi ini dengan istilah kembang cengkeh / ujung tiang bendera / pentol korek. Tapi seringkali bagian pentol korek ini sudah hilang karena karya Empu Guno Sasmito dan keturunannya inilah yang kemudian disebut sebagai Keris tangguh Mageti. Secara umum, Keris Mageti dipercaya memiliki tuah untuk ketentraman dan kebahagiaan bagi pemiliknya, serta untuk memudahkan jalan rejeki dan juga untuk mempengaruhi orang lain agar tunduk dan patuh. Tapi untuk tuah khususnya tergantung dari dhapur dan Pesi Keris Tangguh Mageti Demikian sedikit informasi tentang ciri khas dan kelebihan Keris tangguh Mageti yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar Keris pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit lainnya. Semoga bermanfaat Terima kasih
ciri ciri keris yang bertuah ciri ciri keris yang bertuah
Ilustrasi Keris Surakarta PB VII – Keris-Keris tangguh Surakarta PB terkesan sangat gagah dan berwibawa dengan ukuran bilah lebih panjang jika dibandingkan dengan Keris Jawa era khas Keris Surakarta, yaitu bentuk bilahnya terkesan anggodong pohung menyerupai bentuk daun singkong dan ujungnya yang mbuntut tumo seperti ekor kutu rambut.Rata-rata ukuran bilah Keris tangguh PB lebih panjang dari Keris tangguh Mataram dan Majapahit yang rata-rata panjang bilahnya hanya sekitar 33 - 35 cm, sedangkan ukuran panjang bilah Keris tangguh Surakarta sekitar 35 - 38 panjang, bilah Keris tangguh Surakarta kebanyakan juga lebih tebal dari bilah Keris pada umumnya serta gemuk di tenganya menyerupai tubuh kadal bunting ngadal meteng.Bentuk gonjonya agak melengkung dan bagian sirah cecaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya. Sedangkan gulu meled dan wetengannya berukuran pada Keris-Keris tangguh Surakarta rata-rata bercorak rumit, lembut dan biasanya merata di seluruh permukaan bilah untuk pamor miring pada Keris-Keris tangguh Surakarta bisa dikatakan sangat rapi dan jalur pamornya tidak bertindihan satu sama lainnya sehingga membuat penampilan Keris PB terlihat semakin gaya Surakarta memiliki pamor yang cukup beragam, tapi yang paling banyak dijumpai adalah pamor Wos Wutah, Pendaringan Kebak, Ron Genduru, Wengkon Isen, Koro Welang dan Lar memiliki ciri khas pada bentuk bilah dan pamornya, ada juga beberapa detil yang menjadi ciri khas Keris PB, contohnya posisi dho-nya yang sangat wangun elok dan pas berurutan membentuk greneng yang Keris luk biasanya bentuk luk-nya rengkol sarpo nglangi atau seperti ular yang sedang berenang. Dan pada dhapur Keris yang memakai kembang kacang biasanya bentuknya nggelung Surakarta yang memakai tungkakan sudutnya mbeung tidak lancip dengan ekor gonjo yang melebar. Gandik Keris Surakarta tidak terlalu miring dan lekukan di atasnya tidak terlalu karya Empu zaman Kerajaan Surakarta lama rata-rata mutrani dhapur-dhapur yang terkenal pada masa sebelumnya seperti dhapur Sengkelat, dhapur Naga, dhapur Parungsari dan bahkan Keris-Keris Kalawijan yang jumlah luknya lebih dari bisa disimpulkan bahwa Keris tangguh Surakarta sebenarnya hanya mutrani atau membuat ulang bentuk dari Keris-Keris yang sudah ada dari tangguh-tangguh sebelumnya. Tapi meskipun hanya mutrani, Keris tangguh PB memiliki ciri garap yang khas yang berbeda dengan Keris-Keris tangguh Keris pada masa Paku Buwono II hingga Paku Buwono IV, pada bagian pesinya selalu ada tanda palang + dan ditengah bilahnya terdapat besi sebagai penguat, khususnya Keris karya Empu Brojoguno. Maka tidak heran jika Keris Brojoguno bisa menembus koin tersebut berfungsi untuk memperkuat dan memperkokoh bilah Keris sehingga menjadikan Keris Brojoguno lebih kuat dari Keris yang lain. Hal itu bukan karena ujungnya yang runcing, tapi karena bilahnya di isi besi sehingga menjadi sangat masa PB IV hingga PB IX, bentuk Keris Surakarta terkesan mbangkek atau memiliki bangkekan pinggang atau nggodong yang lahir pada masa PB IV sampai PB IX memiliki ukuran bilah yang lebih panjang dari Keris-Keris tangguh sebelumnya sehingga banyak yang termasuk kategori Corok Keris besar karena ukuran panjang bilahnya melebihi ukuran panjang bilah Keris pada masa PB X, ukuran bilah Keris Surakarta kembali dibuat menjadi lebih pendek, kurang lebih panjangnya sekitar 34 - 35 cm seperti ukuran bilah Keris pada logam Keris tangguh Surakarta PB juga lebih bagus dibanding Keris-Keris lain, terutama bahan pamornya karena wilayah Surakarta memiliki bahan pamor meteor yang kualitasnya sangat masa sebelum PB IX banyak Empu Keris yang menggunakan besi malela sebagai bahan pembuatan Keris. Tapi mulai PB IX hingga PB XII, bahan Keris Surakarta banyak yang menggunakan bale lumur, yaitu besi dari meriam yang rusak atau bale lumur kemungkinan karena salah pengucapan dari kata baltimore, sebuah kota di Inggris yang pada masa silam merupakan pusat pembuatan senjata termasuk Surakarta memang terkenal dengan kualitas pamornya yang bagus. Warna pamor Keris Surakarta lebih cerah, lebih detil dan memenuhi seluruh permukaan bilahnya karena Surakarta atau wilayah Solo memiliki banyak cadangan bahan pamor berkualitas, salah satunya adalah batu meteor yang jatuh di kawasan Prambanan pada zaman PB tangguh PB, terutama PB IX dan sesudahnya lebih banyak yang berpamor Pendaringan Kebak, Udan Mas dan Wengkon karena pada masa itu sudah tidak lagi dalam masa peperangan dimana situasi dan kondisi Keraton sudah mulai tenang dan perekonomian sudah lebih tertata sehingga Keris-Keris pada masa itu lebih banyak yang dibuat dengan pamor-pamor kerejekian atau yang melambangkan sedikit informasi tentang ciri-ciri dan kelebihan Keris tangguh PB Surakarta yang dapat kami sampaikan pada artikel kali ini. Untuk informasi lain seputar Keris pusaka, dapat dibaca pada artikel Harta Langit bermanfaatTerima kasih
ciri ciri keris yang bertuah